Monday, August 3, 2009

Dalam 2 Juta Tahun CO2 Raih Kadar Tertinggi

Namun untuk memastikan bagaimana tinggi temperatur dapat merangkak dan bagaimana pola cuaca mungkin berubah, para ahli butuh menunjuk pasti apa penyebabnya. Sebagai pembanding, dengan waktu di masa lampau saat kejadian serupa, yakni karbon dioksida melonjak tinggi di Bumi.

Melakukan hal itu, mungkin membutuhkan banyak penelitian baru yang lebih keras, seperti dalam studi terkini yang menyatakan tingkat karbon dioksida di atmosfer tidak pernah setinggi ini dalam kurun lebih dari dua juta tahun.

Karbon dioksida, adalah gas rumah kaca yang terbentuk secara alami maupun yang dilepaskan ke dalam atmosfer. Gas yang dilepaskan ke atmosfer terutama dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti pembakaran dalam mobil dan mesin pabrik.

“Kami benar-benar tidak tahu berapa tinggi C02 yang pernah ada di masa lampau secara geologi. Karena itu kami tidak tahu bagaimana sensitif temperatur permukaan Bumi terhadap C02,” ujar kepala Divisi Ilmu Bumi, Don DePaolo, dari Laboratorium Nasional, Lawrence Berley, di Kalifornia.

Sebagian besar prediksi pemanasan global didasarkan data fluktuasi kadar CO2 dan temperatur yang terjadi antara serangkaian periode relatif terkini dari jaman es, demikian menurut DePaolo, yang juga terlibat dalam studi tersebut. Studi itu sendiri akan muncul dalam terbitan jurnal Sciences terbaru pekan ini.

Kimia dalam inti es, sebagai contoh, dapat menunjukkan kadar CO2 telah berubah sepanjang masa, menurun dalam interval lima tahunan. Namun inti es hany merekam sekitar 800 ribu tahun kebelakanga.

Namun, dengan meneliti kimiawi di fosil plankton satu sell bernama foraminifera, tim peneliti di belakang studi mampu memanjangkan rekaman iklim hingga 2,1 juta tahun kebelakang (garis waktu prasejarah)

Metode seperti apa, tidak dipaparkan begitu detail dalam laporan, namun penelitian itu memberi gambaran cukup jelas apa yang terjadi pada interval ribuan tahun secara kasar.

Meski DePaolo lebih suka melihat hasil studi direplikakan dalam ukuran lebih bagus, ia cukup terkesan dengan laporan penelitian. Untuk tanggal-tanggal, ketika data jaman es dan plankton saling beririsan, kadar C02 menunjukkan kecocokan pula. Itu menunjukkan data baru untuk peride waktu lampau juga akurat.

Studi tim, dipimpin oleh Bärbel Hönisch, menemukan bukti yang mematahkan teori jika jaman es yang semakin kuat dan semakin lama terjadi sekitar 850 ribu tahun lalu menyebabkan turunnya dan stabilnya kadar CO2. Sebaliknya, kadar C02 yang ada 2,1 juta tahun lalu, menurun akibat jaman es, tapi kemudian melonjak kembali.

Tak hanya itu, dari penelitian diketahui, rata-rata kadar CO2 selama periode hangat adalah 38 persen lebih rendah ketimbang yang kita temui saat ini. Hal itu sangat signifikan, karena berarti para ilmuwan harus melihat lebih kebelakang lagi untuk menemukan jawaban pemanasan global.

Itu adalah tujuan Bärbel, dalam studi berikutnya. “Kami tahu dari rekaman geologi, jika sekitar 55 juta tahun lalu, temperatur laut dalam tiba-tiba meningkat 8 derajat Celsius,” ujar Bärbel seperti yang dikutip oleh Lamont-Doherty Earth Observatory di Palisades, New York.

republikaonline

Ledakan super dahsyat Danau Toba bersamaan dengan siklus jaman es (ice-age) ??

Sebuah artikel di website ScienceNow mengatakan bahwa ada kemungkinan jaman es yang terjadi ribuan tahun lalu adalah akibat dari beberapa peristiwa yang terjadi secara bersamaan. Sejumlah ahli mengatakan bahwa ledakan super dahsyat yang membentuk Danau Toba 74.000 tahun lalu, secara bersamaan dengan siklus terjadinya jaman es, sehingga menimbulkan jaman es yang sangat drastis.

Menurut sejumlah ahli, terbentuknya Danau Toba (klik disini) adalah dikarenakan ledakan super dahsyat sekitar 74.000 tahun lampau. Ledakan itu sedemikian hebat sehingga awan ledakan menutupi hampir seluruh permukaan bumi selama beberapa waktu. Akibatnya sinar matahari tidak dapat dapat menembus permukaan bumi, sehingga temperatur bumi menurun cukup besar. Inilah yang disebut dengan jaman es, atau kebalikan dari global warming.

Sebuah artikel yang dirilis 7 Juli oleh ScienceNow menyatakan bahwa proses penurunan temperatur bumi akibat ledakan gungun Danau Toba bersamaan dengan siklus alam 1.000 tahunan terjadinya jaman es. Para peneliti di University of New Brunswick, New Jersey, memperkirakan bahwa ada siklus alam yang menjadikan penurunan temperatur bumi setiap 1000 tahun. Kejadian ledakan super dahsyat gunung Danau Toba diperkirakan bersamaan dengan siklus itu sehingga terjadi penurunan temperatur yang sangat besar.

Elen Mosley-Thompsom dari Ohio University bahkan mengatakan, kemungkinan penurunan temperatur sanagat besar dipengaruhi siklus itu.

“The results virtually eliminate mega volcanic eruptions as one of the key drivers of global-scale glaciation,” says climatologist Ellen Mosley-Thompson of Ohio State University in Columbus, who was not involved in the study. So, paleoclimatologists should focus on more likely climate coolers, she says, such as changes in ocean circulation or cyclical variations in Earth’s orbit around the sun.

Perkiraan University of New Brunswick, agak berbeda dengan analisa DR. Rampino dari University of New York, dan Zielinski dari University of New Hampshire. Kedua ahli terakhir meyakini bahwa ledakan Danau Toba telah menjadikan jaman es yang merubah kondisi bumi ribuan tahun lalu.

Jika saat ini terjadi ledakan luar biasa besar, maka akibatnya bisa terjadi penurunan temperatur bumi, bila ledakan itu sampai menutupi atsmosfir sehingga sinar matahari tidak bisa sampai ke bumi. Para ahli tersebut nampaknya membuat analisa andai-andai, bagaimana jika terjadi kebalikan dari proses global warming yang sekarang. Para ahli menyusun berbagai teori tentang jaman es, disisi lain, sejumlah ahli menyusun teori tentang global warming.

Akan tetapi teori bahwa jaman es akan terjadi lagi dimasa depan, nampaknya belum cukup diyakini oleh banyak orang. Meski begitu, seandainya terjadi penurunan temperatur bumi secara mendadak, hal itu akan menjadi malapetaka bagi kehidupan mahluk di muka bumi. Dari segi teori kemungkinan, terjadinya jaman es dimasa datang atau global warming, tetaplah menjadi fenomena yang patut dicermati.

togarsilaban.com